Disuasana pagi yang cerah,aku memulai hari dengan seperti biasa yaitu pergi ke sekolah.
Didalam kelas.....
“hahahahahahahaha...” tawa seisi kelas kepadaku.“hei,lihatlah! Betapa malang nasib anak ini!” seru salah satu temanku.Aku hanya bisa terdiam dan meratapi perkataan mereka.
Perkenalkan namaku Bagas Nuraga. Namaku memang bagus tapi menurut pandangan teman-temanku sifatku tak sebagus namaku. Menurut mereka aku hanya seorang anak yang idiot,bodoh,jelek dan sebagainya. Tapi aku juga mempunyai cita-cita yang lebih tinggi dari mereka. Ya,aku ingin menjadi seorang ilmuwan walaupun aku belum bisa menyaingi seorang Albert Einsten tapi aku yakin bahwa aku dapat menjadi bagia dalam dirinya. Namun,kelebihanku saat ini hanya memasak. Banyak teman yang menertawaiku hanya karena aku berhobi memasak. Memangnya salah? Entahlah. Dan disaat itu aku hanya bisa berpasrah dengan semua perkataan mereka.
Bel pelajaran pun berbunyi,kuberjalan menyusuri lorong—lorong sekolah untuk mencapai kelasku. Tiba-tiba....
“hei Bagas!”, “hei Bagas! Kamu beda hari ini!”,“apanya yang beda? Muka tambah beda sih iya!” batinku.“hei Bagas!” gadis menghampiriku. “kenapa?” tanyaku padanya. “hmm,bolehkah aku meminjam tugasmu? Aku belum selesai” tanya gadis tersebut.“apakah ia ingin mengerjaiku? Tapi tak mungkin lah” batinku.“baiklah,,tapi kembalikan bukuku sebelum jam pelajaran kedua dimulai”kataku sambil menyerahkan buku tugasku padanya.
Setelah itu, aku bergegas pergi kekelasku. Pelajaran pertama hari ini dimulai dengan pelajaran B.Indonesia yang digurui oleh Pak Rohman. Entah mengapa pada saat pelajaran Pak Rohman seisi kelas yang semulanya berantakan tak terkira sekarang menjadi hening atas kedatangan Pak Rohman.
“Assalamu’alaikum anak-anak!” seru Pak Rohman, “Wa’alaikumsalam pak!” jawab kami kemudian kembali hening, “baik,sekarang lanjutkan tugas yang telah lalu” kata Pak Rohman, “baik Pak!” jawab kami tenang.
Bel pelajaran kedua pun berbunyi.
“perasaanku kok tidak enak ya? Padahalkan engga dimakan” pikirku bingung.1 menit....2 menit...Menit ketiga ku isi dengan lamunanku ditempat dudukku. “hei teman-teman! Lihatlah kemari!” seru salah satu temanku sambil membawa sebuah buku, “kenapa?? Kenapa??” sejumlah pertanyaan tiba-tiba berdatangan memenuhi seisi kelas..
Lalu...
“HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!” suara gemuruh tawa pun mengggantikannya.Aku merasa tak asing dengan buku yang dipegang oleh temanku itu. Dan ternyata.....ITU ADALAH BUKUKU!! Oh tidak! Apa yang telah terjadi? Kuhampiri temanku.“hei Gas! Apakah kau yang menuliskan ini?” tanya temanku. “APA-APAAN INI! Aku tak pernah menuliskan kalimat ini!” amarahku mulai memuncak. “orang idiot kok ngaku kalo idiot sih? Pakai diabadikan lagi dalam sebuah kalimat” seru temanku dan yang lainnya pun hanya tertawa.
“AKU ANAK YANG IDIOT”,,,Tulisan itulah yang ada dibukuku. Marah,sebel ku tahan semua. Biarlah orang berkata kalau aku ini termasuk anak yang pecundang atau apalah,aku tak peduli.
Karena kebisingan kelasku,tiba-tiba....Kelaspun hening setelah melihat laki-laki muda yang berdiri tenang didepan pintu. Ya,dia itu Pak Rohman. “kenapa kalian sangat membenci Bagas?” tanya Pak Rohman. Kelaspun menjadi tambah sunyi dengan pertanyaan Pak Rohman. “karena dia jelek Pak!” jawab salah satu temanku. Tawa pun kembali menyeruak dan semenit kemudian menjadi hening. Ajaib memang sikap yang diberikan Pak Rohman pada teman-temanku. Cukup bersikap tenang dan santainya dapat menaklukan satu ruang kelas!.
Pak Rohman pun memandangku dengan teliti dan berkata, “dia tidak jelek kok. Suatu saat kalian akan tahu jiwa asli dari Bagas” kata Pak Rohman.“alhamdulillah,aku dibela oleh Pak Rohman” batinku.
Bel tanda pulang sekolah pun berdengung. Saat-saat ini yang paling aku tunggu. Setelah hampir berada diruang kelas yang mirip dengan pasar itu aku pun bebas.Saat perjalanan pulang,kupandang semua orang. Masih banyak kok yang lebih buruk dari keadaanku ini. “memangnya aku jelek ya?” tanyaku pada cermin. “memangnya salah jika aku penyuka memasak?” tanyaku lagi. “saat ini,aku harus merubah semua sikapku” tekadku dan langsung aku merubah semuanya. Dari gaya busanaku,bentuk tubuhku,dan sebagainya. “mungkin hari ini aku harus bekerja keras!” seruku.
2 bulan yang lalu...
“kak! Cepatlah! Aku udah telat nih” kata Marlo adikku. “Gas,tolong anterin cucian itu kerumah Bu Laras ya” kata ibuku. “Gas,tolong buatkan teh hangat untuk ayah ya!” kata ayahku.Entah mengapa aku begitu bahagia bersama mereka. Memiliki ibu,ayah,dan adik yang mengasyikkan telah merubah semua kepribadianku.
#
“hoaaah,capek sekali hari ini!” kataku dengan tampang kumelnya kulanjutkan dengan tidur. “akan ku buktikan bahwa aku bisa menjadi orang sukses!” batinku.
Waktu memang cepat berlalu,aktivitasku kembali berjalan. Di pagi yang cerah namun tak secerah gigiku,aku bergegas kesekolah. Dengan penuh keyakinanku,aku merasa pede. Saat sampai kesekolah,terlihat rombongan teman-temanku berkumpul didepan mading sekolah.“eh,kamu mau ikut tidak kontes ini? Kamu kan jago!” tanya seseorang ke temannya. “hmm,kayaknya tidak deh. Aku takut” jawab temannya.
Karena penasaranku semakin membesar, aku percayakan diri dengan menyalip kerumunan tersebut. Selamatlah aku dari kerumunan tersebut dan mulai kubaca edaran itu.“WAH! Lomba memasak? Kenapa tidak ku coba saja ya?” kataku. “heh,kamu! Cowok jago masak?” tanya seorang gadis padaku. “kenapa? Ada yang salah?” tanyaku pede.“HAHAHAHAHA! Cowok itu mah harusnya jago olahraga bukan malah jago masak-memasak!” tawa gadis itu.“akan ku tantang kau dalam kompetisi itu!” lanjut gadis itu sambil meninggalkanku. “akan kuterima tantanganmu itu!” jawabku yakin. Setelah pulang sekolah,kumulai mencari contoh resep masakan dari yang termudah sampai yang tersulit. “hah,ini masakan yang cukup pas untuk aku pakai saat lomba nanti” kataku penuh yakin.
Waktu yang kutunggu-tunggu pun datang. Rasa gemetar didalam diriku mulai terasa setelah ku lihat banyaknya orang yang berpartisipasi dalam lomba ini. “walaupun aku satu-satunya lelaki yang mengikuti lomba ini tapi aku yakin aku bisa menjadi yang terbaik dari mereka!” pedeku. Lalu,datanglah gadis yang tak asing bagiku. “hei Gas! Sudah siapkah engkau untuk mengikuti ini terutama untuk melawanku?” tanyanya dengan nada ketus. “ya,aku sangat yakin. Walaupun aku tak tahu akan akhir dari permainan ini aku yakinkan jika ini hanya sebuah kompetisi,ada yang menang dan ada yang kalah” jawabku penuh dengan keyakinan dan kulihat wajah gadis itu tampak kesal dan marah “okeh,jika itu yang membuatku percaya. KITA BUKTIKAN SAJA NANTI!” ucap gadis itu sambil menunjukkan jarinya kearahku dan meninggalkanku.
Perlombaan pun akan dimulai,seluruh peserta sangat antusias mengikutinya. Aku pun bersiap dan kulihat gadis itu sangatlah bersiap dan seakan ingin menerkamku. “baiklah,para peserta dan hadirin,akan kkita mulai perlombaan hari ini dengan doa,berdoa mulai dan selesai” ucapmoderator yang akan memimpin jalannya perlombaan. TUITT.....bunyi terompet menandakan bahwa perlombaan telah dimulai,peserta pun mulai memotong bahan dan memilih,,aku pun juga demikian.
Setelah beberapa jam lamanya,lomba pun berakhir dan aku telah membuat satu resep andalanku yaitu oseng toge dengan campuran petay. Resep itu telah ku dapatkan dari ibuku. Mungkin hanya aku yang memasak masakan kampungan itu karna yang lain memasak resep barat,timur,selatan,utara juga ada! Hebat memang.
Para juri pun diperkenankan untuk mencicipi masakan peserta dan para peserta pun tegang untuk menunggu hasil dari masakan mereka. Gadis itu pun menghampiriku lagi “aku yakin pasti masakanku yang paling lezat karena aku menggunakan resep dari barat!” ucap gadis itu sambil membusungkan badannya. Tak aku gubris perkataan gadis itu dan ku tinggalkan gadis itu disana. Karena para peserta diberikan waktu untuk beristirahat,akupun keluar dari ruangan luas itu. “telah berapa lama aku berada didalam? Ternyata telah datang malam” heranku. Tak disengaja terlihatlah bintang-bintang bertebaran dilangit-langit angkasa. “bintang,mengapa engkau begitu menakjubkan? Walaupun engkau hanya hadiirr dimalam hari tapi engkau tetap ditunggu-tunggu orang yang senang akan dirimu? Mengapa aku tak bisa sepertimu?” otomatisku bermonolog dengan benda mati yang berkalap-kelip disana.
Waktu istirahat pun telah usai dan hasiil dari penilaian juri pun telah selesai. Para peserta pun mulai merasakan gugup akan hasilnya. Aku juga demikian dan kulirik gadis itu,ia mulai tampak panik dan gugup. Kuhampiri dia dan berkata “bagaimana perasaanmu saat ini? Apakah merasa gugup seperti yang lainnya?” tanyaku padanya,ia pun tak menggubris dan pergi meninggalkanku, “apakah aku salah mengatakan itu padanya?”tanyaku bingungg. “aku takut,karena aku tahu kamu sangat jago dalam perlombaan ini Gas! Aku takut kalah lagi dari kamu!”batin gadis itu.
“baiklah,para hadirin akan kita bacakan juara ketiga dari perlombaan ini dan pemenanggnya adalah Nur Maidah dan yang kedua adalah Rosminah! Dan inilah saat-saat yang paling ditunggu-tunggu, pemenang pertama jatuh kepada ananda.....” seru moderator itu. Aku semakin gugup dan gadis itu juga demikian. “Ananda Bagas Nuraga! Silahkan bagi para pemenang untuk ke atas panggung dan menerima hadiah” lanjut moderator. “apa? A..a..aku menang?” tak percayaku timbul,ku bergegas naik ke panggung dan kulirik gadis itu,ternyata ia ikut bertepuk tangan untukku!. “selamat ya,kamu menang dalam kompetisi ini!” cepat gadis itu lalu pergi meninggalkanku.
Disekolah..
“cieee,selamat ya Gas kamu menang dalam perlombaan bergengsi semalam!”,”iya selamat ya!”, sejumlah kata-kata yan tak pernah terdengar untukkusekarang ada dihadapanku. Jawaban mereka hanya ku jawabb dengan senyuman. “apakah ini yang namanya hidup? Penuh dengan misteri yang mengandung banyak kejutan didalamnya,sungguh senangnya hari ini” batinku.
Setelah lulusan sekolah SMA, kulajutkan kuliah jurusan tata boga walaupun tadinya aku bercita-cita ingin menjadi ilmuwan tapi aku beralih untuk mengikuti hobiku yaitu memasak. Sekarang,aku telah mencoba berbagai macam lomba memasak dan aku telah meraih berbagai penghargaan,aku juga banyak teman sekarang tak ada lagi yang akan mencemoohku. Aku telah membuat keluargaku bangga,sekarang aku telah menjadi guru private untuk memasak dan aku juga mengajarkan Marlo untuk memasak, wow hebat sekali perjuanganku ini.
